Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen Horor: Hutan Aokigahara

Menurut KBBI, cerpen merupakan singkatan dari cerita pendek. Cerpen sendiri memiliki banyak genre, sama halnya dengan novel atau film. Mulai dari romansa, horor, thriller, religi, bahkan komedi. Selain memperhatikan EYD dan KBBI, menulis cerpen membutuhkan setting lokasi, penokohan serta diksi yang selaras sehingga cerita akan menjadi menarik. Karena itulah sangat disarankan untuk mengikuti kelas menulis sebelum menerbitkan cerpen, baik berupa antologi dalam bentuk buku fisik, atau sekedar mengikuti event berhadiah di media sosial.




Berikut ini merupakan cerpen horor bersetting lokasi Hutan Aokigahara yang mungkin bisa menginspirasi para penulis pemula agar tidak kehabisan ide. 
Jangan lupa melakukan riset sebelum menulis, ya! 




Saturday In Tokyo (How Are You?)






Dengan santai, Kayuki membuka pintu kamar mandi. Ekspresi wajahnya begitu gembira saat mengayunkan tungkai sembari mengusapkan handuk ke rambut basah. Hingga tiba-tiba, telinga pria tersebut menangkap seseorang yang sedang lirih bersenandung.



Tentu saja, pria bertubuh 𝘴π˜ͺ𝘹 𝘱𝘒𝘀𝘬 tersebut tak asing dengan si pemilik suara, tetapi saat memperhatikan ruang kamar, tak ada siapa-siapa. Gelaran kasur di lantai pun masih tertata rapi. Walau begitu, dia langsung terpaku ketika melihat pita rambut berwarna merah yang tergeletak di meja. 


Rasa takut segera menyelimuti Kayuki, bahkan tangan berkulit putihnya bergetar saat meraih pita, sementara di belakang telah berdiri sesosok wanita bergaun putih. Perlahan mata sipit pria tersebut bergerak melirik ke belakang seiring jantungnya yang berdetak cepat. Namun, sewaktu berbalik, lagi-lagi, dia tidak melihat siapa-siapa. 


Embuskan napas lega pun keluar dari hidung mancung Kayuki. Tanpa menunda waktu, dia bergegas mencari kardus, lantas meringkas pita beserta foto-foto yang terpajang di rak bersama sang kekasih. 


 "Maafkan aku, Mei," ucapnya. 


Setelah membawa semua barang di dalam kardus menuju ke luar rumah, Kayuki meletakkannya di bawah pohon bunga sakura yang sedang mekar, sebelum kemudian menyiramkan bensin dan menyalakan korek api untuk membakar semua kenangan yang ditinggalkan Mei. 



 "Musim semi tahun ini, aku benar-benar harus melupakanmu." Mata pria tersebut begitu memelas menyiratkan duka.



*** 



 Gemerlap lampu remang-remang menyinari Nishi Azabu A-LIFE, sebuah kelab malam di Minato, distrik kota istimewa Tokyo. Para pengunjung menari-nari diiringi musik DJ, botol demi botol wine pun disulangkan. Kayuki Shimizu, dan Yosuke duduk satu meja. Suasana memang begitu meriah, tetapi ketiga pria tersebut sedang diliputi kecemasan sehingga malam minggu mereka justru terasa mencekam.


 

"Aku merasa diteror," kata Kayuki. "Mei sudah mati, mana mungkin bisa melakukan semua." Shimizu berusaha mengingkari.
Pria berwajah oval itu meraih segelas wine di meja lalu menenggaknya hingga tak tersisa.



Yosuke menyentuh leher belakang karena merasa pusing. "Ini semua idemu, Shimizu. Kau yang membujuk kita untuk memperkosa wanita itu."


"Kalau kau menikmatinya, tak usah menyalahkanku, brengsek!" Shimizu langsung menoleh pria bertubuh kurus dan berambut putih tersebut. 


 "Hei, kenapa kalian malah bertengkar?" Kayuki menggebrak meja dengan penuh penyesalan. "Sudahlah, seharusnya aku tidak mempertaruhkan Mei dalam permainan ini.”


"Lalu, maumu apa? Bukankah aku juga menyerahkan tubuh Ayumi saat kalah!" Shimizu menatap benci Kayuki. Tentu saja pria berkulit gelap dan berdada bidang tersebut juga pernah mengorbankan seorang wanita untuk kesenangan mereka bertiga. 


 "Aku hanya bisa berharap Mei tidak pernah menggangguku lagi!" keluh Kayuki. "Tak ada pilihan lain kecuali melawan ketakutan ini." Yosuke berpasrah. 




 *** 



Saat tengah tertidur di kamar masing-masing, tiba-tiba Kayuki, Shimizu, dan Yosuke menemukan diri mereka telah berada di Hutan Aokigahara. Hutan yang terkenal sebagai tempat bunuh diri di kaki Gunung Fuji. Bergegas, Kayuki beralih dari merebah ke posisi duduk sembari memperhatikan sekitar. Begitu juga dengan Shimizu dan Yosuke. 


 "Hutan Aokigahara!" Tentu saja Kayuki tidak lupa di mana jasad Mei dibuang. Sementara itu, Yosuke menggeleng kepala dengan tubuh yang bergetar hebat karena ketakutan. "Ini tak mungkin!" 


 "Apa-apaan ini? Kalian masih takut pada Mei?" Shimizu menoleh kedua temannya itu secara bergantian. "Kita hanya perlu keluar dari sini!"


Tanpa berpikir panjang, Shimizu lantas berdiri dari tanah. Namun, saat akan melangkah pergi, dia dikejutkan oleh sesosok wanita bergaun putih yang telah ada di hadapannya. "Mei!"


Shimizu tak percaya. "Selamat datang di Hutan Aokigahara." Wanita berambut panjang tersebut tersenyum. "𝘏𝘰𝘸 𝘒𝘳𝘦 𝘺𝘰𝘢, 𝘎𝘢𝘺𝘴?" 


 "Aku sudah menyiapkan permainan yang sangat menarik untuk kalian." 


 "Tinggalkan tempat ini!" lirih Shimizu sembari melirik Kayuki. "Tapi...." Kayuki diliputi rasa bersalah. "Cepat!" Shimizu menegaskan. 


Ketiga pria tersebut berbalik dan melarikan diri, sedangkan Mei hanya tersenyum menyikapi. Hutan Aokigahara ditumbuhi pepohonan lebat sehingga pada malam hari terlihat sangat gelap. Memang tak ada hewan buas di tempat tersebut. Namun, roh-roh orang yang meninggal secara tidak wajar tampak berkeliaran. Di antara mereka ada yang bergelantungan di pohon dengan lidah menjulur. Ada pula yang hanya berdiri dan menatap kosong, bahkan hantu nenek-nenek bungkuk sedang berjalan ke sana-kemari. Melihat pemandangan mengerikan itu, Kayuki, Shimizu, dan Yosuke makin ketakutan. Meski telah berlari jauh mereka masih tak menemukan jalan.


"Harusnya ada banyak pita di sini." Shimizu kebingungan, pita berwarna yang biasa terpasang sebagai petunjuk arah juga tidak ada. 


"Ini aneh sekali," sahut Kayuki. Yosuke pun panik. "Bagaimana ini?" Sewaktu mengalihkan pandangan ke depan, mereka justru kembali di hadapkan pada Mei di tempat semula. 


"Siapa sebenarnya kau, Wanita Terkutuk?" Shimizu menjadi kesal. Mei kembali tersenyum. "Aku Mei, yang kalian bunuh setelah kalian perkosa." 


"Apa maumu, Mei. Kenapa kau mengganggu kami?" tanya Yosuke. 


 "Tentu saja, bermain dengan kalian, seperti kalian mempermainkanku," jawab Mei yang memperlihatkan domino batu dengan dua lingkar hitam. 


Benda tersebut adalah yang dipakai Kayuki, Shimizu, dan Yosuke dalam bertaruh wanita. "Ikuti permainan atau kalian tak akan memiliki kesempatan hidup!" 


 "Mei, aku benar-benar meminta maaf padamu, tapi tolong lepaskan kami." Tersirat penyesalan di mata Kayuki. Rasa tersebut telah berhasil mengalahkan ketakutannya. 


Mei tersenyum sinis menyikapi. "Semua sudah terlambat." Kayuki menunduk, sementara Shimizu dan Yosuke saling menatap. 


Mereka tahu tidak akan mudah menghadapi Mei. "Baiklah, kami akan bermain." Shimizu menerima tantangan. "π˜‘π˜’π˜―π˜¬π˜¦π˜―!" perintah Mei. Mau tak mau Kayuki, 


Shimizu, dan Yosuke segera melakukan suit. Beberapa kali mereka sempat seri diposisi batu dan kertas, walau kemudian Kayuki memenangkan permainan di posisi gunting.


Muncul dua sosok hantu berwajah rusak menyerupai Mei. Yang satu memegang kapak dan satunya lagi membawa pisau. Melihat itu Shimizu dan Yosuke segera berbalik dan lari tunggang-langgang, padahal kedua hantu masih diam di tempat. 


 Yang tak terduga, Yosuke berhalusinasi seakan-akan melihat Shimizu sebagai Mei yang berwujud hantu. Sosok tersebut tersenyum menyeringai sembari mengayukan pisau sampai-sampai membuat Yosuke bergegas menjauh, meski sempat terjatuh karena tersandung batu.


 "Yosuke!" teriak Shimizu yang menoleh si teman. 


 Yosuke sendiri dihadapkan dengan sosok-sosok Mei yang teramat banyak dan berada di mana-mana. Salah satu pisau dari mereka melesat cepat. Untung Yosuke segera menghindar. Dengan napas naik turun seiring peluh yang menetes, pria tersebut melirik pisau yang menancap di pohon, bahkan sebelum sempat melarikan diri, Mei telah mengarahkan sebelah tangan ke atas sehingga Yosuke terangkat oleh kekuatan supranatural. 


 "Ampuni aku, Mei!" Yosuke memasang muka melas. "Nikmatilah kematianmu, Yosuke!" 


Tiba-tiba tubuh pria itu dijatuhkan hingga seketika dadanya tertembus tajamnya ranting pohon. Darah segar langsung mengalir deras dari luka seiring Yosuke yang mengembuskan napas terakhirnya. 




***



Sementara itu, Shimizu juga dihadapkan dengan sosok Mei. Panik membuat pria tersebut berlari seraya menoleh ke belakang sehingga lantas tersandung akar pohon dan terjerembab. Saat dia berbalik, sosok-sosok Mei menjadi banyak dan telah berada dekat. Shimizu buru-buru bangkit, tetapi saat akan berlari ada tetesan darah yang mengenai bahunya. Lagi-lagi dia harus memberanikan diri mendongak, hingga lantas terkejut karena melihat Yosuke telah mati mengenaskan tersangkut pohon. 


Selain berteriak histeris, Shimizu juga mengelilingkan pandangan bersamaan dengan sosok-sosok Mei yang mengayunkan kapak. Sekelebat, dia melihat domino batu berlingkar dua di pohon tempat Yosuke mati. Pria tersebut segera meraih domino dan berbalik. Namun, dia dihadapkan kembali pada Mei dan Kayuki di tempat semula. 


 "Level kedua akan lebih menyenangkan." Mei tersenyum menyikapi. "Di mana Yosuke?" tanya Kayuki. Sembari menggeleng Shimizu menjawab, "Dia mati." 


Bagai tersambar petir, tubuh Kayuki seketika serasa lemas, bahkan dia langsung memejamkan mata karena dipenuhi penyesalan. "Tinggal kalian berdua sekarang," kata Mei. "π˜‘π˜’π˜―π˜¬π˜¦π˜―!" 


Karena tak ada pilihan lain, Kayuki terpaksa menghampiri Shimizu. Bagaimanapun permainan harus selesai walau nyawa sendiri jadi taruhannya. Mereka melakukan suit, tetapi lagi-lagi Kayuki menang. Shimizu bergegas memundurkan diri dan berlari. Tentunya, dia tahu pasti kali ini tak akan selamat. 


 Sementara itu, Kayuki menghampiri Mei dan meraih pundak sang kekasih. "Kumohon hentikan, Mei!" 


 "Terlambat, Kayuki. Aku akan membalas apa yang kalian lakukan padaku!" Iblis tersebut kukuh pada pendirian. 




*** 



 Sesosok hantu menampakkan diri di hadapan Shimizu, lantas mendongak memperlihatkan lensa mata polos dan gigi runcing, sedangkan roh-roh dari orang-orang yang meninggal secara tidak wajar juga berjalan menghampiri pria tersebut. Mei yang hadir sebagai pemimpin para hantu, mengarahkan sebelah tangan hingga membuat Shimizu terangkat lalu terpelanting ke batu. Meski Shimizu mendapat luka di bagian kening akibat benturan, dia masih sanggup berdiri. Sebelum Shimizu sempat menghindar, Mei telah berada dekat dan mengayunkan kapak ke tempurung kepala pria tersebut sehingga seketika dia jatuh di tanah. 


Dengan susah payah Shimizu bertahan, bahkan masih mampu berbalik menatap Mei yang justru tersenyum menyeringai sembari mengayunkan kembali kapak hingga berulang kali. Darah menciprat ke wajah cantik Mei. Kepala Shimizu hancur dibuatnya. Tak lama kemudian, pria tersebut mengembuskan napas terakhir. 



 *** 



 "Semua temanmu sudah mati, Kayuki. Aku akan membiarkanmu pergi sekarang." Mei dingin menyikapi. 


"Siapa sebenarnya kau, Mei?" tanya Kayuki. Sejak tadi Mei sama sekali tidak berniat melakukan sesuatu padanya. 


 "Kalau kau tidak pergi, aku akan membunuhmu, Kayuki." Wanita itu menolak menjelaskan. 


"Bunuh saja diriku, aku tidak akan bisa hidup seperti ini, Mei." Kayuki pasrah. 


Bibir semerah jambu Mei membentuk senyuman penuh misteri. "Kau memang pemberani, Kayuki." 


 "Aku mencintaimu, Mei. Aku tak bisa melupakanmu, bahkan setelah kau mati," ungkap Kayuki. 


 "Baiklah kalau itu maumu!" Mei tersenyum menyeringai. 


 Kuku-kuku tangan wanita itu memanjang, dengan cepat langsung mengoyak dada Kayuki dan mengeluarkan jantung yang masih berdenyut sesaat. Seketika Kayuki sekarat dan segera jatuh di tanah. Mei menatap hampa untuk waktu yang cukup lama, sebelum menggigit telapak tangan kanan, kemudian meneteskan darah ke mulut Kayuki. Perlahan sang kekasih yang sudah meninggal pun membuka mata, remang-remang dia melihat Mei berpenampilan menarik seperti sedia kala. 


"Tentu saja kita akan menjadi pasangan iblis,” pungkas Mei sembari mengembangkan senyum.
Nyi Alam Kasuyatian
Nyi Alam Kasuyatian Lahir 1992 di Kota Kediri, Suyati merupakan penulis cerita horor dan fantasi yang memiliki beberapa karya cetak. Antara lain, Sang Dewi (Novel 2022), Teman Ghaib (Antologi Friend or Love 2022), Persembahan untuk Blorong (Antologi Aksara 13 Pena 2022), serta Sejiwa (Antologi Missing You 2022).

Posting Komentar untuk "Cerpen Horor: Hutan Aokigahara"

Mengenal Jenis-jenis Genderuwo dan Asal-usulnya
Cerpen Horor: Hutan Aokigahara
Cerpen Horor